Grand Syeikh Muhammad al-Khudhar Husein: Simbol “Kemesraan” Zaituny dan Azhary

Tidak banyak yang tahu bahwa seorang ulama kelahiran Tunisia yang pernah menimba ilmu di Jami’ al-Zaitunah kelak akan menjadi salah satu pemimpin tertinggi al-Azhar di Mesir. Mungkin mayoritas orang beranggapan bahwa Syeikh al-Azhar hanyalah orang yang berasal dari Mesir, namun fakta itu dapat terpatahkan dengan diangkatnya Syeikh Muhammad al-Khudhar Husein sebagai al-Imam al-Akbar, Syeikh al-Azhar ke-41 pada tahun 1371 H / 1952 M.


Pembentukan jabatan tertinggi di Lembaga al-Azhar dimulai pada Dinasti Utsmaniyah (698 H / 1299 M – 1342 H / 1923 M) di tahun 1090 H / 1679 M dengan sebutan gelar yang berbeda-beda seperti Musyrif al-Azhar atau Nazhir al-Azhar. Meskipun demikan, gelar tersebut memiliki arti yang sama sebagai pemimpin tertinggi al-Azhar. Adapun gelar Grand Syeikh al-Azhar atau al-Imam al-Akbar ditetapkan dengan dikeluarkannya Undang-undang Mesir Nomor 103 Tahun 1961 M tentang “Pengembangan Al-Azhar”.


Jabatan tersebut ditetapkan langsung oleh Presiden Mesir yang dipilih dari anggota Dewan Ulama Senior atau Akademi Riset Islam al-Azhar yang terdiri dari para ulama-ulama besar yang ahli dalam bidang keislaman lintas mazhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali). Jabatan ini akan terus diemban selama yang bersangkutan bersedia atau dapat diganti jika melanggar hukum, atau mengundurkan diri atau meninggal dunia.


Hingga kini tercatat ada 44 ulama yang pernah mempimpin al-Azhar; diantaranya 6 ulama yang pernah menjabat dua periode, sehingga keseluruhannya berjumlah 50 Grand Syeikh al-Azhar. Dimulai dari Syeikh Muhammad al-Kharasy sebagai Grand Syeikh pertama pada tahun 1090 H / 1679 M hingga wafat tahun 1101 H / 1690 M, kemudian digantikan oleh Syeikh Ibrahim al-Barmawy hingga wafat pada tahun 1106 H / 1695 M. Dan sekarang, Syeikh Ahmad al-Thayyib yang diangkat pada tahun 1431 H / 2010 M sebagai Grand Syeikh al-Azhar yang ke-50 menggantikan Syeikh Muhammad Sayyid Thanthawy yang telah mempimpin al-Azhar dari tahun 1416 H / 1996 M hingga beliau wafat pada tahun 1431 H / 2010 M dan dimakamkan di Baqi, kota al-Madinah al-Munawwarah.

Zaituny
Zaituny merupakan sebutan bagi seorang penuntut ilmu di Jami’ al-Zaitunah dan diakui kapasitas keilmuannya. Jami’ al-Zaitunah merupakan salah satu universitas tertua di dunia yang terletak di kota Tunis negara Tunisia, al-Maghrib al-Araby. Didirikan pada tahun 79 H / 698 M atas perintah Hassan bin Nu’man, panglima perang Islam yang menaklukan Tunisia dan sekitarnya. Kemudian disempurnakan oleh Ubaidillah bin al-Habhab, Gubernur Tunisia dimasa Dinasti Umayyah (41 H / 662 M – 132 H / 750 M) pada tahun 120 H / 737 M.
Sejak awal Jami’ al-Zaitunah didirikan sebagai tempat ibadah, hingga akhirnya berkembang dalam bidang pendidikan dan pengajaran keilmuan Islam. Ulama Zaituny yang terkenal diantaranya adalah Ibnu Khaldun; seorang pakar sejarah, sosiologi dan ahli filsafat. Selain itu, Muhammad al-Khudhar Husein, Grand Syeikh al Azhar ke-41 dan juga Thahir ibnu ‘Asyur; pakar ilmu Maqashid Syariah dan ahli tafsir dengan karyanya yang fenomenal yaitu al-Tahrir wa al-Tanwir min al-Tafsir, dan masih banyak lagi Ulama Zaituny yang ahli dalam berbagai bidang lainnya.

Azhary
Merupakan sebutan bagi seorang penuntut ilmu di Jami’ al-Azhar dan diakui kapasitas keilmuannya. Jami’ al-Azhar didirikan pada tahun 361 H / 972 M oleh panglima Jauhar al-Shiqli pada masa Dinasti Fatimiyah (296 H / 909 M – 336 H / 948 M) di Kairo, Mesir.


Sebagaimana Jami’ al-Zaitunah yang semula didirikan untuk beribadah, Jami’ al-Azhar kini berkembang menjadi salah satu universitas terkemuka di dunia dalam pendidikan, pengajaran dan pengembangan keilmuan Islam.
Mulanya Jami’ al-Azhar digunakan untuk pengajaran dan penyebaran mazhab Syi’ah pada masa Dinasti Fatimiyah, namun sempat di nonaktifkan selama hampir 100 tahun pada masa Shalahuddin al-Ayyubi tahun 566 H / 1171 M. Demikian bertujuan menghilangkan pengaruh mazhab Syi’ah dan meneguhkan kembali mazhab Sunni di Mesir, dan diaktifkan kembali pada masa Dinasti Mamalik (648 H / 1250 M – 923 H / 1517 M) oleh Sulthan Beibris di tahun 664 H / 1266 M guna menyebarkan pengajaran mazhab Sunni hingga sekarang.


Jami’ al-Azhar telah melahirkan ulama-ulama besar yang tersebar diberbagai belahan dunia di setiap zamannya. Diantara ulama Azhary yang terkenal adalah pengarang kitab Fathu al-Bari Syarhu Shahih al-Bukhari, Syeikh Ibnu Hajar al-‘Atsqolany, Syeikh Ramadhan al-Buthy, dan Profesor Quraisy Syihab serta Ustadz Abdul Somad di Indonesia.

Syeikh Muhammad al-Khudhar Husein
Memiliki nama lengkap Muhammad al-Akhdhar bin Husein bin Ali bin Umar, berasal dari keluarga keturunan Aljazair, yang hijrah ke wilayah selatan Tunisia dikarenakan penjajahan Prancis atas Aljazair tahun 1830 M. Beliau lahir di Nefta, wilayah Touzer, Tunisia bagian selatan. Sedari kecil, untuk mempersingkat panggilan nama “al-Akhdhar” diganti menjadi “al-Khudhar”. Namun ketika datang ke Mesir beliau menghilangkan kata “bin” sebagaimana umumnya di wilayah al-Masyriq al-Araby, menjadi Muhammad al-Khudhar Husein yang akrab dikenal dengan panggilan al-Khudhar.


Lahir pada tahun 1293 H / 1876 M dari keluarga yang memiliki pendidikan keislaman yang kuat, menghafal al-Quran dan menamatkan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya. Pada umur ke-12 tahun, beliau pindah ke Tunis bersama keluarganya dan meneruskan belajar di Jami’ al-Zaitunah tahun 1307 H / 1889 M yang saat itu dikatakan mirip dengan Jami’ al-Azhar dalam sistem pendidikan dan pengajaran.


Belajar dan bermulazamah kepada ulama-ulama besar di zamannya, diantaranya adalah Syeikh Salim Buhajib, Syeikh Muhammad al-Makky bin ‘Azuz, Syeikh Muhammad al-Najjar, Syeikh Umar bin al-Syeikh, hingga dinyatakan lulus dan mendapatkan Syahadah Tathawwu’ yaitu Ijazah Kelulusan dan memperbolehkannya mengajar di Jami’ al-Zaitunah pada tahun 1316 H / 1898 M.


Dengan bertujuan untuk menyebarkan kebaikan Islam, pun sebagai petunjuk bagi masyarakat kepada dasar-dasar Islam dan ajarannya, beliau mencetuskan penerbitan majalah al-Sa’adah al-‘Uzma, yang dianggap sebagai majalah ilmiah pertama berbahasa arab di Tunis pada tahun 1321 H / 1903 M. Namun peneribitan tersebut hanya berlangsung sebanyak 21 kali dalam kurun satu tahun.


Diangkat menjadi Khatib dan Imam di Jami’ Agung sekaligus Hakim di wilayah Binzerte, Tunisia bagian utara. Demikian atas rekomendasi Syeikh Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur, namun hanya bertahan beberapa bulan hingga beliau mengundurkan diri pada tahun 1324 H / 1905 M dan kembali ke Tunis untuk mengajar di Jami’ al-Zaitunah.


Hijrah dan Kunjungan berbagai Negara
Setelah lulus dari Jami’ al-Zaitunah, Syeikh al-Khudhar aktif berpergian mengunjungi ke beberapa negara seperti Aljazair, Astana, Jerman, Mesir, Syria, dan Turki dengan berbagai tujuan dan alasan. Pergi ke Astana untuk mengunjungi pamannya, Syeikh Muhammad al-Makky bin ‘Azuz. Pergi ke Aljazair untuk mengunjungi keluarga leluhurnya dan menyampaikan ceramah di berbagai wilayah. Lalu Mengunjungi Istanbul dan kemudian diutus ke Berlin oleh Mentri Urusan Perang, Anwar Basya untuk diplomasi antar negara.


Beliau memutuskan untuk hijrah dari Tunisia pada tahun 1331 H /1912 M setelah terjadinya kasus tuduhan atas penyebaran kebencian dan permusuhan terhadap penguasa Perancis yang saat itu menjajah Tunis, sebagai buah dari penolakan beliau atas ajakan untuk bergabung ke dalam al-Mahkamah al-Faransiah. Di Syiria beliau diangkat sebagai pengajar di Madrasah al-Sulthaniyyah, dan aktif mengajar di Jami’ al-Umawiyah di kota Damaskus.


Namun ternyata fitnah dan ujian tidak berhenti begitu saja. Pada masa Gubernur Syriah Ahmad Jamal Basya, Syeikh al-Khudhar sempat dipenjara atas fitnah politik selama kurang lebih 6 bulan dan mendapatkan siksaan yang pedih hingga akhirnya dibebaskan pada bulan Rabi’ul Tsani 1335 H / Januari 1917 M. Kemudian beliau pergi ke Astana atas permintaan Mentri Urusan Perang, Anwar Basya. Lalu kembali ke Damaskus tahun 1336 H / 1918 M dan meneruskan aktifitas mengajar di beberapa Madrasah.


Pada tahun 1338 H / 1920 M terjadi penjajahan Perancis atas Syiria, timbul kembali fitnah atas Syeikh al-Khudhar yang menyebabkan ia diberi ancaman hukuman mati oleh penjajah. Dan akhirnya mengharuskan beliau kembali hijrah meninggalkan kota Damaskus tercinta. Mulanya beliau berpikir untuk kembali ke Tunisia, namun Allah SWT berkehendak lain, dan beliau pun hijrah ke Mesir sebagai bentuk pelarian atas ancaman hukuman mati tersebut.


Tiba di Kairo pada tahun 1339 H / 1920 M, bertemu dengan Ahmad Taemur Basya dan bersahabat dengannya. beliau lah yang telah banyak membantu Syeikh al-Khudhar khususnya selama masa-masa awal kedatangannya di Mesir, hingga akhirnya dikenal dan diakui kealiman dan keilmuannya.


Dimulai pada tahun 1346 H / 1927 M ketika Syeikh al-Khudhar diangkat sebagai pengajar di Jami’ al-Azhar atas rekomendasi dari Grand Syeikh Muhammad Mushthafa al-Maraghy setelah menempuh ujian untuk mendapatkan Syahadah al-‘Alamiyah dari Jami’ al-Azhar.


Pada tahun 1348 H / 1928 M, Grand Syeikh Muhammad al-Ahmady al-Zoahiry menerbitkan majalah Nur al-Islam yang sekarang dikenal dengan Majalah al-Azhar sebagai salah satu bentuk kepedulian di bidang kepenulisan, dan mengangkat Syeikh al-Khudhar sebagai pimpinan redaksi hingga mengundurkan diri pada tahun 1352 H / 1933 M. Beliaupun resmi diberi status Kewarganegaraan Mesir pada tahun 1351 H / 1932 M.


Bermodalkan status warga Negara Mesir, Syahadah al-‘Alamiyah, dan karya tulis akademik yang berjudul al-Qiyas fi al-Lughah, beliau mengajukan diri menjadi anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar, dan akhirnya diterima secara mufakat serta resmi menyandang keanggotaan tersebut pada tahun 1370 H / 1950 M.


Al-Imam al-Akbar, Grand Syeikh al-Azhar ke-41
Negara Mesir saat itu masih menganut sistem Kerajaan dengan Ahmad Fuad al-‘Alawy sebagai raja yang berkuasa dari tahun 1355 H / 1936 M hingga akhirnya turun dari tahta kerajaan pada tahun 1371 H / 1952 M akibat terjadinya Revolusi 23 Juli yang dipimpin Jendral Muhammad Nagieb. Revolusi ini menyebabkan perubahan sistem, dari kerajaan menjadi kepresidenan atau republik sesuai keputusan 18 Juni 1953 M, dan Muhammad Nagieb resmi menjadi Presiden Pertama di Mesir.


Pada masa peralihan dari kerajaan menjadi kepresidenan, setelah terjadinya mufakat dalam Dewan Kementrian pasca periode revolusi, beberapa mentri mendatangi kediaman Syeikh al-Khudhar, tepatnya pada bulan Dzulhijjah 1371 H / September 1952 M. Mereka meminta beliau untuk menjadi Grand Syeikh al-Azhar menggantikan Syeikh Abdul Majid Salim yang menggundurkan diri.


Setelah beberapa kali penolakan, akhirnya Syeikh al-Khudhar menerima dan mengemban amanah ini dengan penuh kesabaran dan ketekunan meski diumurnya yang hampir menginjak 80 tahun. Beliau berkata, “Sesungguhnya al-Azhar adalah sebuah amanah di leherku ketika ku terima dalam keadaan yang sangat makmur. Meski al-Azhar tidak dapat mencapai kegemilangannya di tanganku, maka setidaknya tidak terjadi pengurangan (dari kemakmurannya)”.


Setelah hampir dua tahun mengemban amanah tersebut, dan setelah beberapa kali berfikir untuk mengundurkan diri karna faktor kesehatan yang menjadikan beliau kurang maksimal dalam beraktifias. Hingga akhirnya beliau mengajukan pengunduran diri dari jabatan Grand Syeikh al-Azhar pada tahun 1373 H / 1954 M sebagai bentuk protes penggabungan al-Mahkamah al-Syar’iyyah kedalam al-Mahkamah al-Madaniyyah.


Sedangkan Syeikh al-Khudhar berpendapat sebaliknya, bahwa al-Mahkamah al-Madaniyyah harus berada dalam cangkupan al-Mahkamah al-Syar’iyyah, karena Syariat Islam harus menjadi sumber utama dalam pembentukkan undang-undang Negara, sebagaimana Islam menjadi Agama resmi di Mesir.


Setelah turun dari jabatan tersebut, Syeikh al-Khudhar tetap aktif mengajar dan aktif dalam kegiatan akademik lainnya. Beliau juga sempat mengunjungi saudaranya Syeikh Zain al-‘Abidin yang tinggal di Damaskus, kemudian kembali ke Mesir hingga wafat pada Rajab 1377 H / Februari 1958 M di umur ke-84 tahun Hijriyah atau ke-82 tahun Masehi. Dimakamkan di pemakaman keluarga Taemur di kota Kairo sebagaimana wasiat beliau ketika hidup untuk dikuburkan disamping sahabat sejatinya yaitu Ahmad Taemur Basya, atas persetujuan ahli waris keluarga Taemur.


Karya-karya Syeikh al-Khudhar
Beliau menulis banyak karya ilmiah diberbagai bidang, di antaranya:
Rasail al-Islah. Kumpulan karya ilmiah yang ditulis dalam beberapa bagian meliputi berbagai bidang seperti akhlak, agama, sosial, sejarah, dan biografi.
Al-Hurriyyah fi al-Islam. Merupakan pidato beliau ketika menjabat sebagai Hakim sekaligus Khatib dan Imam Masjid Agung di kota Binzerte.


Tunis wa Jami’ al-Zaytunah. Tulisan-tulisan beliau di berbagai media cetak yang mempunyai hubungan dengan Tunis serta biografi beberapa tokoh Tunis.
Naqdu Kitab al-Islam wa Ushul al-Hikam. Karya yang beliau tulis sebagai bentuk bantahan atas buku al-Islam wa Ushul al-Hikam karya Syeikh Ali Abdu al-Razaq yang menyerukan tentang pemisahan antara agama dan negara.
Naqdu Kitab fi al-Syi’ri al-Jahily. Karya yang beliau tulis sebagai bentuk bantahan terhadap Toha Husein yang mengingkari keabsahan Syi’ir Jahily dan tuduhan pembohongan terhadap al-Quran, dalam karya terbarunya saat itu yang berjudul Fi al-Syi’ri al-Jahily.


Al-Qiyas fi al-Lughah. Membahas detail tentang permasalahan kias dan segala hal yang berkaitan dengannya. Merupakan karya ilmiah yang ditulis untuk memenuhi salah satu syarat pengajuan menjadi anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar.
Sejarah mencatat Syeikh Muhammad al-Khudhar Husein sebagai Grand Syeikh al-Azhar ke-41 dan Grand Syeikh pertama yang bukan dari keturunan atau kelahiran Mesir. Ini menjadi bukti bahwa kealiman dan keilmuan beliau telah diakui dan diterima oleh dua Lembaga Islam tertua di dunia, al-Zaitunah Tunis dan al-Azhar Kairo. Demikian menjadikan penulis dapat menilai sebagai salah satu simbol utama dari persatuan dan keharmonisan Zaituny dan Azhary.


Referensi
Buku :
Abdurrahman, Sa’id: Syuyukh al-Azhar, bagian 4, al-Syirkah al-‘Arabiyah li al-Nasyri wa al-Tauzi’, 1996 M.
Al-Bayyumy, Muhammad Rajab: al-Nahdhah al-Islamiyah fi Sair A’lamiha al-Mu’ashirin, Dar al-Qalam, Damaskus, 1995 M.
Al-Zarkaly, Khairuddin bin Muhammad: al-A’lam, Dar al-‘Ilmi li al-Malayin, 2002 M.
Al-Huseiny, Ali Al Ridha: Mawsu’atu al-A’mal al-Kamilah Li al-Imam Muhammad al-Khudhar Husein, Dar al-Nawader, Syriah, 2010 M.
Al-Jundy, Anwar: al-Fikr wa al-Tsaqofah al-Mu’ashirah fi Syamal Ifriqiya, Dar al-Qawmiyat li al-Thiba’at, Kairo, 1965 M.
Ali, ‘Abdu al-‘Adzim: Masyikha al-Azhar Mundzu Insyaiha Hatta al-an, Matbu’at Majma’ Buhus al-Islamiyah, 1979 M.

Website:
www.dar-alifta.org
www.marefa.org
www.islamsyria.com
www.ultratunisia.ultrasawt.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *