Cerita Ramadhan di Kota Kairouan, Tunisia

Rabu 21 April, atau tepatnya pada 9 Ramadhan, saya pergi bersama salah satu teman senior saya ke salah satu kota bersejarah di Tunisia, yaitu Kairouan, menginap beberapa hari untuk merasakan suasana Ramadhan di kota tersebut. Jujur, kami masih takjub dengan semua yang ada di kota ini, ntah watak dari warganya, suasana kota itu sendiri, ataupun dalam aspek lainnya.

Bagaimana tidak, disana adalah tempat dimana kita dipaksa menjadi keluarga oleh warga sekitar meski baru pertama jumpa. Singkat cerita sesampai disana, kami langsung diundang oleh supir taksi yang kami naiki untuk berbuka bersama di rumahnya, dan hampir setiap naik taksi pasti dimintanya nomor telpon, facebook, ataupun alat komunikasi lainnya untuk mengajak berbuka bersama (sampai bingung mau buka dimana karna banyaknya undangan dari warga sana), pada akhirnya kami diajak oleh teman-teman Mahasiswa Indonesia yang berada di Kairouan untuk ikut berbuka di salah satu warga sana, ‘Am (Paman) Walid namanya, seorang pedagang dikota ini yang sangat dermawan, ia mengundang seluruh Mahasiswa Indonesia yg ada di Kairouan untuk berbuka bersamanya dan keluarganya selama bulan puasa full, semua hidangan terbaik disiapkan untuk kami berbuka puasa, “Kalian adalah tamu kami, kami menghormati kalian” salah satu kalimat yang selalu mereka katakan kepada kami Orang Indonesia.

Setelah selesai berbuka puasa kami langsung bergegas menunaikan Sholat Maghrib berjama’ah bersama ‘Am Jamal dan keluarga, beliau meminta agar kami yang menjadi Imam yang digilir satu persatu setiap harinya. Ketika langit semakin menggelap dan mega merah di langit akan segera hilang, itu tandanya waktu Isya akan segera tiba, maka semua orang bergegas beebondong-bondong untuk pergi ke Masjid-Masjid yang ada di Kota ini, tentunya dengan memenuhi Protokol Kesehatan. Pada umumnya, Masyarakat Tunisia banyak yang memilih untuk Sholat di Masjid ‘Uqbah bin Nafi’, nisbat kepada pendirinya itu sendiri yaitu ‘Uqbah bin Nafi’. Dikarenakan banyaknya Jama’ah, maka kami bergegas cepat menuju Masjid tersebut, tentunya agar dapat Sholat di dalam Masjid. Dimulai dengan Sholat ‘Isya, dilanjut dengan 8 rakaat Sholat Tarawih dan diakhiri dengan 3 rakaat Sholat witir, 3 Imam bergantian memimpin Sholat. Pada Sholat Tarawih itu sendiri, dibacakannya 1 hizb atau setengah Juz Al-Qur’an dalam 1 malam. Dengan itu, dibacakannya setengah Al-Qur’an selama sebulan Full.

bersama sahabat yang tinggal di kota Kairouan

Ketika terbit fajar dan tenggelamnya matahari, ditembakannya meriam kearah langit layaknya sebuah petasan besar yang diiringi dengan Lantunan Adzan setelahnya, itu menjadi pertanda masuknya waktu Shubuh ataupun Maghrib, dalam arti lain ketika mendengar pada waktu fajar maka waktunya untuk menyudahi santapan sahur, dan ketika mendengarnya di sore hari maka sudah waktunya untuk berbuka puasa.

Tidak hanya itu, di Kairouan terdapat banyak tempat peninggalan bersejarah dan juga makam para Kekasih Allah yang menjadikan kota ini sangat indah dan bernuansa Islami. Terdapat Masjid ‘Uqbah bin Nafi’, menjadi saksi atas kemenangan Islam di bumi Afrika yang dibangun langsung oleh panglima ‘Uqbah bin Nafi’ pada tahun 50-54 Hijriyah yang menjadikannya sebagai monumen Islam bersejarah dan terbesar di Afrika Utara dan juga menjadi rujukan model bagi semua masjid setelahnya yang ada di Arab Maghribi.

Di kota ini juga terdapat banyak makam para kekasih Allah, diantaranya adalah Sidi Sahbi Abu Zam’ah al- Balawi (Wafat 43 Hijriyah), Sahabat Nabi yang ikut serta dalam Bayaturidhwan pada Perang Hudaibiyah, kemudian menyaksikan penaklukan mesir bersama ‘Amr Bin ‘Ash yang kemudian masuk ke Afrika pada masa Khalifah ‘Utsman Bin ‘Affan, dan akhirnya wafat di Kota ini pada tahun 34 Hijriyah. Selain itu ada juga makam salah seorang Tabi’in, yaitu Zaynab Binti ‘Abdillah Bin ‘Umar Bin Khattab (43 Hijriyah). Cucu daripada Khalifah kedua yaitu ‘Umar bin Khattab, wafat diusia yang terbilang masih kecil dan dimakamkan sebelum Kota Kairouan dibangun tepatnya pada tahun 34 Hijriyah. Selain daripada keduanya, masih banyak lagi makam-makam pada Auliya dan ‘Ulama, seperti Imam Sahnun, pengarang “Mudawwanah” yaitu sebuah kitab fiqh dalam Madzhab Maliki yang menjadikannya sebagai salah seorang ahli fiqh terkemuka dalam Madzhab Maliki. Dan tentunya masih banyak lagi para Auliya dan Ulama yang dimakamkan di Kota ini.
Ya, mungkin itu semua menjadi salah satu sebab yang menjadikan kota ini indah dan tenang. Dan pastinya masih banyak lagi keunikan dan keindahan yang ditawarkan ketika melaksanakan Ramadhan di Kota Tercinta ini.

Video Terbaru di Chanel Youtube PPI Tunisia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *