Ole777

OLE777 Login

PPI TUNISIA

Membaca Pemikiran Harun Nasution, tokoh pembaharu islam di indonesia

Kemaren Sore, kami baru saja membedah thesis Naufal Sholahuddin, mahasiswa magister dalam bidang Aqidah Filsafat Fakultas Hadharah Universitas Az-Zaitunah, Tunisia dengan thesisnya yang berjudul “Konsep Gagasan Agama Menurut Harun Nasution Melalui Bukunya Filsafat Agama.” bersama teman-teman komunitas Tanwir (Teras Pemikiran Peradaban).

Thesis ini berisi tentang pemikiran-pemikiran falsafah Agama dan Teologi menurut Harun Nasution, Tema yang diangkat adalah konsep gagasan agama Harun Nasution. Terutama terkait dengan pemikirannya yang berbunyi “Filsafat Agama”.

“Harapanku memang hanya satu. Pemikiran asy’ariyah harus diganti oleh pemikiran rasional mu’tazilaħ, pemikiran para filosof atau pemikiran rasional” sebut Harun Nasution, seperti banyak yang kita baca di dalam kutipan-kutipan tentangnya.

Mu’tazilaħ merupakan kelompok Islam rasional. Mu’tazilaħ inilah yang dipegang teguh Harun dan diperkenalkan kembali ke Indonesia.

Semasa mudanya, Harun sempat disuruh oleh orang tuanya untuk melanjutkan studinya ke Saudi. Akan tetapi sesampainya di Saudi, Ia terheran karena tak melihat sepeda motor, apalagi mobil. Lebih banyak unta maupun keledai yang terlihat beroperasi di jalanan. Barangkali ia terheran karena terbiasa hidup tertata semenjak kecilnya. Yang lebih nyaman menjalankan peradaban modern.

Dari kejadian itulah mungkin kita dapat mengambil pelajaran, bahwa semangat modernitas itu yang telah membentuk kepribadian Harun, termasuk dalam ajaran Islam.

Saat ini, Harun Nasution dikenal sebagai tokoh pembaharu Islam di Indonesia. Yang mengedepankan akal dan pikiran ketimbang adat, tradisi atau ritual-ritual yang dianggapnya menghambat kemajuan kaum muslimin.

Yang menjadi pusat perhatian penulis adalah dengan segenap pro dan kontra yang menyertainya, kenyataannya Harun Nasution-lah yang sesungguhnya sudah membuka jalan pemikiran masyarakat Indonesia pada saat itu. Dimana kajian-kajian pada teologi klasik membawa kearah kajian yang modern, Beranjak ke Islam yang rasional dari Islam yang tekstualis. Dan dari situlah kontribusi beliau.

Harun sendiri menyatakan bahwa perpaduan pemikiran Abduh dan konsep mu’tazilaħ mampu membawa masyarakat menjauh dari kekacauan, bahkan tanpa turunnya wahyu sekalipun. Namun, bukan berarti Harun menentang konsep wahyu dalam meyakini Islam dan keilahian Tuhan. Justru, Ia selalu memadukan wahyu dengan akal selaku dua unsur utama yang saling melengkapi. Karena filsafat itu merupakan cara kita bagaimana untuk berpikir, maka Alkindi-pun berpendapat bahwa agama dan filsafat itu sejalan, karena dua-duanya ingin menemukan kebenaran.

Setelah mendengarkan materi dan berdiskusi terkait pemikiran Harun Nasution tadi, penulis menyatakan bahwa Harun Nasution adalah tokoh pembaharu Islam di Indonesia. Ia memiliki pemikiran yang sangat kritis pada zamannya, dan membuka ruang berpikir modern bagi umat agama Indonesia.

Tentu sebagai pelajar, apalagi labelnya pelajar agama. Jangan pernah menutup ruang berpikir kita dan menjadi kolot begitu saja. Dengan kata lain, pelajar seharusnya sangat tidak tertarik dengan ulama-ulama yang menimbulkan paham taklid buta di kalangan umat dan menyebabkan kita untuk berhenti menggunakan akalnya. Karena sikap seperti itu dipandang Harun bertentangan dengan al-Quran dan Hadis.

Lebih dari itu, sebisanya, Menjadi teladan bagi pelajar agama terutama agama Islam. Mengkritiskan akal sehat kita. Sebab jika Islam sendiri ingin bangkit, kita harus membangkitkan pemikiran kita secara mendalam, menyeluruh, progresif dan filosofis terhadap Islam itu sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *