Ole777

OLE777 Login

PPI TUNISIA

Al-Qur’an : Seni Komunikasi Allah dengan Ciptaan-Nya

al-Qur’an adalah sumber ajaran agama Islam laksana samudera penuh keajaiban dan keunikan yang tidak pernah sirna ditelan masa. Al-Qur’an memperkenalkan dirinya antara lain sebagai hudan linnās dan sebagai kitab yang diturunkan agar manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang.

Bagi Nabi Muhammad SAW, al-Qur’an merupakan lambang utama kenabian dan risalah utama ilahiyah yang diturunkan melalui lisan jibril untuk disampaikan kepada umat manusia di samping hadist Nabi sebagai penjelas bagi al-Qur’an.

Sedangkan bagi umat Islam, al-Qur’an merupakan petunjuk yang tidak ada lagi keraguan didalamnya. karena itu, umat Islam diperintahkan memahami makna dan kandungan al-Qur’an untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, bagaimana al-Qur’an dapat disebut sebagai komunikasi antara Allah dengan ciptaan-Nya? Atau sebaliknya? oleh karena itu, seharusnya kita terlebih dahulu mengetahui makna dari kata “komunikasi”.

Komunikasi Allah dengan Ciptaan-Nya

Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Kata komunikasi berasal dari bahasa latin, communis yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Dalam KBBI disebutkan bahwa komunikasi adalah hubungan komunikasi, garis hubungan, alat hubungan, kabar, pemberitahuan dan sebagainya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi al-Qur’an adalah suatu kebersamaan atau hubungan Allah dengan hamba-Nya untuk menyampaikan sebuah kabar ataupun pemberitahuan tentang alam semesta.

Menurut Everet M. Rogers, seorang pakar komunikasi Amerika mengatakan bahwa, komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.

Pengertian komunikasi yang dikemukakan oleh Everet M. Rogers ini dapat dipahami bahwa, komunikasi al-Qur’an merupakan hakekat suatu hubungan Allah dengan hamba-Nya dengan adanya perintah dan larangan untuk menghendaki perubahan sikap dan tingkah laku yang lebih baik dan benar.

Kemudian, Lasswel juga mengatakan bahwa komunikasi meliputi lima unsur, yakni: komunikator, pesan, media, komunikan dan efek. Berdasarkan pradigma Lasswel dapat dipahami bahwa, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.

Maka, jika dikaitkan dengan al-Qur’an, bahwa Allah menyampaikan pesan kepada Nabi Muhammad melalui al-Qur’an untuk disampaikan kepada umatnya agar mereka berada dalam kebenaran.

Komunikasi ini bisa dikatakan sebagai komunikasi vertikal, dimana komunikasi terjadi antara Allah kepada hamba-Nya. Komunikasi ini dapat berupa teguran, perintah, bahkan pujian. Sebagai contoh Allah memuji Nabi Muhammad SAW dalam al-Qur’an surat al-Qalam ayat 4 yaitu: “Dan sesungguhnya engkau {Muhammad} benar-benar berbudi pekerti yang luhur”.

Komunikasi Hamba dengan Penciptanya

Terlepas dari semua itu, bahwa al-Qur’an juga media untuk berkomunikasi dengan sang Pencipta dan interaksi hamba dengan Tuhannya. Allah berfirman dalam surat Al-Hadidayat9, yaitu:

“Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang {Al-Qur’an} supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha penyantun lagi Maha penyayang terhadapmu”.

Kemudian dalam surat al-A’raf ayat 62 Allah berfirman melalui cerita nabi Nuh “Aku menyampaikan kepadamu amanat tuhanku, memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”.

Ayat diatas bisa menjadi petunjuk untuk kita bahwa al-Qur’an dapat mengubah karakter buruk kita yang dirasa sulit untuk diubah. Maka, luangkanlah waktu untuk al-Qur’an, biarlah al-Qur’an yang mengubah karakter kita, karena pada hakikatnya kita sedang meminta nasihat pada sang pencipta.

Maka, penulis dapat menyimpulkan menjadi dua sisi tentang fungsi al-Qur’an sebagai media komunikasi. Pertama, media komunikasi Allah kepada hamba-Nya untuk menyampaikan perintah, larangan, nasihat, dan peringatan. Kedua, al-Qur’an sebagai interaksi ruhiah hamba dengan Tuhannya untuk mendapatkan karunia-Nya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *