Ole777

OLE777 Login

PPI TUNISIA

Gelar acara webinar, PPI Tunisia bahas Krisis Kemanusiaan dunia Arab

Dalam Webster’s New World (1996), mendefinisikan krisis sebagai ‘a turning point in the course of anything’‘ yang berarti suatu titik balik dalam sesuatu. Sedangkan kemanusiaan merupakan sebuah sikap universal yang harus dimiliki setiap manusia untuk melindungi dan memperlakukan manusia sesuai hak-hak manusiawi. Pada prinsip Humaniora, manusia didorong untuk mencapai kemanusiaannya yang sesungguhnya.

Masa-masa ini, berbagai macam cabang ilmu pengetahuan diletakkan di bawah Humaniora, sehingga penetapan hukum yang akan dicetuskan tidak terlepas dari hak asasi manusia yang masih dianggap sebagai sesuatu yang paling penting saat ini. Dalam bahasa latin, Humaniora sering disebut sebagai artes libertales atau studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut Yunani Kuno, Humaniora disebut dengan trivium, yaitu; logika, retorika, dan gramatika.

Berbicara tentang kemanusiaan, tak terlepas dari meletusnya konflik peperangan di dunia. Peperangan yang mengakibatkan hancurnya tempat tinggal, kemiskinan merajalela, dan korban jiwa yang tak terhitung menjadi catatan penting dalam mekanisme kehidupan. Walau krisis kemanusiaan juga dapat terjadi akibat kesenjangan ekonomi, perubahan iklim, kekurangan pangan, kenaikan harga bahan bakar dan pupuk, seperti yang terjadi di tahun 2021, dampak perubahan iklim berbaur dengan dampak konflik menjadi akar masalah kelaparan yang terjadi di Madagaskar. Namun perlu kita garis bawahi, bahwa terjadinya peperangan tidak dapat menghentikan atau menjadi solusi terhentinya krisis kemanusiaan karena faktor primer lain.

Di dunia arab, meletusnya peperangan antara Houthi Yaman dan sekutu AS-Inggris bukan hal baru yang terjadi. Pada tahun 2010, telah terjadi revolusi di Tunisia dan Mesir, perang saudara di Libya, pemberontakan sipil di Bahrain, Suriah dan Yaman, protes besar di Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, Oman, serta protes kecil di Kuwait, Lebanon, Mauritania, Arab Saudi, Sudan, dan Sahara Barat yang kita kenal dengan Kebangkitan dunia Arab (The Arab Spring/الثورات العربية). Sehingga, konflik semacam itu tidak lagi asing kita dengar, dan menjadi sebuah peristiwa yang biasa terjadi di dunia arab.

Arab Saudi sebenarnya sudah memperingatkan akan adanya peningkatan krisis kemanusiaan di tahun 2023. Hal itu dijelaskan Aqil Al-Ghamdi, Asisten Direktur Jenderal pengawas untuk perencanaan dan pengembangan di Pusat Bantuan Raja Salman atau juga dikenal sebagai KSRelief. Dunia arab terus menjadi focus utama dalam kajian para ahli dan penelitian media internasional karena gejolak kemanusiaan tak kunjung padam. Kekuatan internasional seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, China, Perancis, Inggris, dan Italia serta kekuatan regional seperti Turki, Israel, dan Iran bertarung memperebutan posisi investasi dalam gejolak kemanusiaan di dunia arab. Kepentingan politik masing-masing negara terkesan bertolak belakang sehingga persiapan untuk menghadapi krisis kemanusiaan tidak kunjung terealisasi.

Sebagian negara arab cukup terlihat mengalami kemajuan dalam bidang ekonomi dan teknologi, namun masih sangat konservatif dalam struktur dan kultur politiknya. Dengan demikian, masa depan dunia arab masih dapat dipertanyakan. Sudah sering kita dengar bahwa negara arab mempersiapkan berbagai macam hal guna mengantisipasi terjadinya krisis sosial berkelanjutan, namun tetap saja pergulatan politik dan peluang membuka investasi dari kekuatan internasional dan regional tidak mau menjadi sempit. Mereka akan terus memikirkan bagaimana caranya agar bisnis yang mereka jalani tidak berhenti, dan masih bisa memanfaatkan kekonservatifan politik arab yang menjadi pasar menjanjikan bagi berjalannya sirkulasi keuangan negara berselimut investor tersebut. Demikian problematik yang membuat konflik masih menjadi pendorong utamanya krisis kemanusiaan di dunia.

Dalam hal ini, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar acara Webinar dengan mengusung tema “Agama dan Kemanusiaan: Menatap Masa Depan Perdamian Dunia. Acara Webinar yang dilaksanakan pada hari kamis (22/02/2024) ini dihadiri oleh para tokoh Indonesia seperti: Dr. Musthafa Abdurrahman, Gus Ulil Abshar Abdalla dan Dr. Hj. Nur Rofi’ah bil. Uzm.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *