Ole777

OLE777 Login

PPI TUNISIA

Lombok Potret Mozaik Kebudayaan Akulturatif Agama dan Budaya

Secara sosiologis, masyarakat Lombok dikenal sebagai masyarakat yang kuat mempertahankan norma dan nilai ajaran agama, sehingga dikatakan sebagai masyarakat religius. Religiusitas masyarakat Lombok terefleksikan dengan banyaknya Masjid, bahkan pulau ini dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid.

Religiusitas adalah karakter dasar orang Sasak. Inti dari karakter itu adalah sifat lurus. Kata “Lombok” dalam Bahasa Sasak dibaca “lomboq” yang berarti lurus. Kata “Sasak” dalam salah satu versinya berasal dari “sa’-saq”. Artinya adalah “yang satu”. Dengan demikian, Sasak Lombok berarti satu yang lurus. Orang Sasak sejak masa sebelum Islam menyebut Tuhan dengan “Neneq Kaji Saq Kuase”; Ne, artinya ini; Neq, artinya kepunyaan; Kaji, artinya saya; Saq, artinya tunggal; dan Kuase, artinya kuasa. Neneq Kaji Saq Kuase bermakna “Diri ini adalah kepunyaan Allah Dzat Tunggal yang Maha Kuasa”.

Dalam konteks masyarakat suku Sasak di Lombok, Islam merupakan rujukan utama dan lensa ideologis dalam memahami dan mengevaluasi perubahan. Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam menghadapi perubahan serta kekuatan-kekuatan eksternal dan Islam merupakan agama yang memainkan peran penting sebagai penjaga nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di masyarakat.

Pada masyarakat Sasak, kearifan lokal merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan agama dan adat budaya. Karenanya denyut nadi kehidupan masyarakat Sasak memerlukan cara-cara yang arif lagi bijaksana. Karena itu sikap yang etik yang dikembangkan masyarakat Sasak setidaknya juga tercermin dari petuah para orang tua yang dapat disimpulkan dalam ungkapan-ungkapan berikut: Solah mum gaweq, solah eam daet, bayoq mum gaweq bayoq eam daet (baik yang dikerjakan maka akan mendapat kebaikan dan buruk yang dikerjakan maka akan mendapatkan keburukan).

Secara filosofis, kebudayaan masyarakat suku Sasak Lombok tidak lepas dari pola trilogi dasar yakni: pertama, “epe-aiq” sebagai Pemilik yang Maha Kuasa atas segala asal kejadian alam dan manusia. Kedua, “gumi-paer” sebagai tanah tempat berpijak di situ langit dijunjung, karena di “gumi-paer” ini masyarakat Sasak dilahirkan, diberi kehidupan dan selanjutnya diwafatkan. Ketiga, “budi-kaye” yang merupakan kekayaan pribadi dari kesadaran akan “budi-daye” yang menurunkan “akal-budi” pada setiap manusia untuk mendapatkan kemuliaan hidup.

Dalam masyarakat terdapat kearifan lokal untuk harmoni kehidupan. Hal ini tergambar dari pantun (lelakaq) berikut ini:

Niniq Bai, Bije Sanaq Naken Bagus – bagus ntan jauq diriq endak langgar adat krama tertip tapsila endak piwal leq dengan towaq, pengelingsir leq pesware dengan si kwase silaq beriuk tunas ring arepan dekaji Allah Ta’ ale Neneq si Kuase ampoq te jari dengan besanakan si tao jauq diriq Saleh-solah-soloh, Patut-patuh-pacu genem geger gerasak Lombok Mirah Saksaq Adi, sekadi siq tesurat leq dalam kitab negare kerta game maliq perlu te pade iling, Sai-sai juaq si te ican jari perkanggo endaq jari dengan si besifat bahil loba tamaq beterus betabeat angkuh iri dengki dait sombong iling-iling-iling beriuk pade iling.

Berikut ini penulis merumuskan prinsip-prinsip kearifan lokal suku Sasak sebagai berikut :

1. Prinsip kejujuran dan kesetian memegang janji.
Sifat kejujuran ini diungkapakan dengan kata “danta” (gading gajah), “danti” (ludah), “kusuma” (bunga), “warsa” (hujan). Artinya, setiap kata-kata yang diucapkan atau janji-janji yang diikrarkan wajib dipegang dan dipertahankan dengan kuat bagaikan gading gajah yang apabila telah keluar tidak akan masuk lagi, jika berludah tidak akan dijilat kembali, bagaikan bunga yang tidak akan mekar dua kali dan hujan jika telah turun tidak akan kembali naik.

2. Prinsip dalam menegakkan ajaran agama.
Pengamalan hukum adat Sasak pada hakekatnya menghendaki setiap orang untuk selalu menjaga hubungan yang harmonis baik antar sesama, hubungan dengan alam sekitar, semuanya harus dijalani dengan mengharapkan ridha dari Allah Ta’ala. Hal ini tercermin dalam ungkapan-ungkapan antara lain: “Agama beteken lan betakaq adat”, artinya agama bertiang dan berwadah adat (adat istiadat yang berlaku harus berfungsi menegakkan dan mensucikan agama), “ndaq ta ngaken barak api”, artinya jangan kita makan bara api (larangan untuk memakan riba), “pacu-pacu punik akhirat”, (bersungguh-sungguh berbuat kebajikan untuk kehidupan akhirat).

3. Prinsip kebersamaan dan gotong royong.
Nilai kebersamaan dan gotong royong ini tercermin dalam berbagai ungkapan yang mengandung kearifan antara lain :“Sorong jukung leq segara, bareng onyak bareng lenge”, artinya dorong perahu di laut, bersama-sama baik bersama-sama buruk (jalankan hidup senasib dan sepenanggungan), “beriuk, beriuk tinjal”, artinya serempak, selangkah, seayun dalam bekerja.

4. Prinsip kemanusiaan.
Martabat setiap orang harus dihargai dan dijunjung tinggi dalam arti setiap orang dijamin haknya untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaannya. Hal ini tercermin dalam ungkapan “kaoq mondong jagung, sai taoq jari agung”, artinya kerbau memikul jagung, siapa tahu jadi terhormat. “ulah mandi isiq bisene”, artinya ular bertuah karena bisanya atau racunnya (seseorang itu berharga atau berguna karena ilmunya).

5. Prinsip dalam perekonomian dan etos kerja.
Kearifan lokal dengan prinsip ekonomi dan etos kerja tersebut, diantaranya : “Kendeq teteh sie leq segara”, artinya jangan buang garam di laut (ini mengandung makna larangan melakukan pekerjaan sia-sia). Di dalam bekerja, setiap orang dituntut untuk cekatan yang disebut “kencak” dan rajin yang disebut “genem” dan larangan berperilaku boros diungkapkan secara simbolik “serut cina sampat besi”, artinya serut cina sapu lidi besi (suka menghamburkan harta).

6. Prinsip dalam penyelesaian konflik.
Di dalam penyelesaian sengketa, kearifan lokal suku Sasak mengarah kepada perdamaian yang diselesaikan dengan musyawarah mufakat. Dalam konteks upaya penyelesaian konflik, nilai kearifan lokal suku Sasak tercermin dalam ungkapan “aiq meneng, tunjung tilah, empaq bau”, artinya air tetap jernih, bunga teratai tidak rusak, tetap utuh, dan ikannya tertangkap. Maksudnya, dalam penyelesaian konflik harus diorientasikan untuk menghasilkan kepuasan kedua belah pihak, kedua belah pihak merasa menang dan tidak ada yang merasa kalah.

Demikian cerita kebudayaan dari daerahku, pulau Lombok yang menggambarkan potret mozaik akulturatif agama dan budaya. Budaya tetap lestari dan agama memberi warna dalam mengisi preferensi nilai. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqh: al-‘adah muhakkamah (adat istiadat atau kebudayaan dapat dijadikan landasan hukum).

Muhammad Sheva Maulaya Zuhdi, Mahasiswa Universitas Kairouan Tunisia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *