Ole777

OLE777 Login

PPI TUNISIA

Refleksi Kebaikan dan Keburukan dengan Teori Ibnu Khaldun

Kebaikan dan keburukan adalah permasalahan filosofis yang sulit bahkan tidak dapat dihitung dengan kalkulasi data, karena konsep ini adalah relatif dan dapat diinterpretasikan dengan cara apapun oleh berbagai kelompok atau individu. Banyak faktor yang mempengaruhi baik dan buruk karakter seseorang; lingkungan, sosial, keyakinan dsb. Lingkungan adalah sebab utama yang dipaparkan Ibnu Khaldun sehingga timbullah kaidah besar “Manusia adalah anak lingkungnnya.”

Ibnu Khaldun adalah seorang pemikir muslim abad pertengahan yang terkenal dengan kontribusinya dalam bidang agama, sejarah, sosilogi, dan ekonomi. Pendekatannya dalam agama dengan bidang ilmu sosial menjadikan islam dipandang oleh dunia hingga Ia diberi penghargaan sebagai bapak sosiologi modern. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Muqaddimah”.

Allah swt menunjukkan kebaikan dan keburukan dalam diri manusia hingga mereka dapat memilih mana yang mereka inginkan, sebagaimana firmannya وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ “maka kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”, serta firmannya فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا “maka Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikannya dan ketakwaannya.”

Fitrah merupakan keadaan awal yang diberikan Allah swt kepada setiap individu, Kebaikan adalah fitrah manusia, keburukan adalah pelencengan dari fitrah tersebut, dan lingkungan sosial adalah wadah yang dapat mempengaruhi tempat manusia antar keduanya. Selaras dengan ini, Ibnu Khaldun membagi kepada dua bagian sosial yaitu, masyarakat perkotaan (Ahl al-Haḍar) dan masyarakat pedalaman (Ahl al-badu).

Masyarakat perkotaan memiliki struktur sosial dan ekonomi yang lebih kompleks dibanding masyarakat pedalaman, mereka hidup di kemajuan peradaban kota, sosial, dan budaya. Faktor ini mempengaruhi sebagian gaya hidup mereka yang selalu menerima hal yang bersifat duniawi, merasakan kenikmatan yang berlebih, memiliki kebiasaan boros, menuruti hawa nafsunya hingga menyebabkan mereka jauh dari agama.

Adapun masyarakat pedalaman cenderung memiliki struktur sosial dan ekonomi yang lebih mengutamakan konsep “secukupnya”, mereka walaupun menerima hal yang bersifat duniawi, akan mengambilnya dengan tidak berlebih, juga bukan sesuai dengan hawa nafsu dan kenikmatan, melainkan sesuai dengan kebutuhan.

Maka, masyarakat pedalaman lebih dekat kepada kebaikan dibanding masyarakat perkotaan karena memiliki kebiasaan lebih baik dibanding mereka yang hidup di kota. Akan tetapi pada zaman sekarang, keburukan telah masuk di seluruh kalangan, masyarakat perkotaan yang memiliki kekuasaan menarik masyarakat pedalaman agar jatuh dalam keburukan, sosial media faktor utama yang mengontaminasi kehidupan masyarakat pedalaman, bahkan sebagian mereka menganggap keburukan itu hal yang lumrah. Lalu, dimanakah kita sekarang?

Fajrul Falah, Mahasiswa Magister Universitas Az-zaitunah Tunisia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *