PPI TUNISIA

Bunga Lili di Tepi Gunung Merapi

Alam semesta tidak diciptakan dengan asal-asalan. Ada rumus yang sistematis, sinkron antara satu ciptaan dengan ciptaan lainnya. Begitu kira-kira ungkap Phytagoras dalam teorinya. Bahwa dunia dan seisinya tidak lepas dari rumus-rumus yang mengatur ritme kehidupan. Sehingga tercipta keseimbangan diantara unsur-unsur yang berbeda. Perbedaan itulah yang menjadi rumus penting. Ibarat puzzle yang melengkapi satu sama lain. Satu padu menjadi keindahan utuh. Dengan hikmah-Nya, Tuhan meletakkan banyak pelajaran. Bagi manusia khususnya yang dimuliakan dengan akal untuk berpikir. Salah satu diantara hikmah penciptaan-Nya adalah diciptakan semua berpasang-pasangan. Ada bumi dan langit, malam dan siang, bulan dan matahari, laki-laki dan perempuan. Sebagai tanda ketunggalan Tuhan yang tidak berbilang. Bahwa Dia-lah yang tidak butuh sandaran, berdiri sendiri, tidak beranak dan tidak beristri. Namun, kebanyakan manusia, bukannya berpikir menelaah kebesaran Tuhan yang terpancar dalam segala ciptaan-Nya, malah mengingkari keberadaan-Nya.

Kecerdasan yang dimiliki manusia membuat mereka menyembah akalnya. Melawan fitrahnya sebagai makhluk yang butuh pada Sang Pencipta. Kemungkaran mereka terlihat dari kerusakan yang terjadi di muka bumi. Sebagai makhluk berakal, seharusnya manusia menjadi khalifah yang menjaga dan memelihara keseimbangan dunia. Tapi nyatanya, justru manusialah yang paling besar berpotensi merusak kelangsungan hidup di bumi. Akal sehat mereka terlalu lemah dan selalu kalah dengan sifat serakah. Oleh karenanya, Tuhan dengan kebijaksanaan-Nya, senantiasa memilih diantara manusia seorang Nabi dan Rasul, guna menyampaikan risalah ketuhanan sekaligus sebagai pembimbing ke jalan yang membahagiakan. Tidak hanya itu, Dia juga menurunkan kitab kepada beberapa utusannya, sebagai norma hidup di dunia dan peta menuju kehidupan Surga. Peran para nabi dan rasul di muka bumi juga sebagai role model yang mengaplikasikan ajaran Tuhan dalam kehidupan, mengajarkan manusia tentang hikmah dan segala yang termaktub dalam kitab.

Setidaknya, ada empat kitab yang diturunkan Tuhan kepada manusia dari zaman ke zaman. Taurat diturunkan kepada Nabi Musa, Zabur kepada Nabi Daud, Injil kepada Nabi Isa, dan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kitab-kitab tersebut berisi tentang ajaran tauhid, hikmah, kisah-kisah kaum terdahulu ataupun kabar masa yang akan datang, tata cara berlaku diantara makhluk hidup, juga tentang perkara iman kepada yang gaib, seperti kehidupan alam akhirat siksa neraka dan nikmat surga. Secara garis besar, Tuhan mengajarkan kepada manusia bagaimana cara yang baik dan benar menjalani tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Memberikan hak dan kewajiban antara dirinya dengan Tuhan maupun antara dirinya dengan sesama makhluk hidup lainnya.

Karena diberi amanat sebagai khalifah, artinya manusia memiliki peran besar dalam menciptakan kehidupan yang berperadaban. Akal sebagai modal untuk menata kehidupan. Memilah dan memilih antara baik dan buruk, salah dan benar. Kemudian, ajaran Tuhan datang menguatkan insting manusia yang selalu condong kepada kebenaran. Tapi, sebagian manusia ada yang menentang dan menolak kebenaran. Akhirnya, berbuat banyak kerusakan sebab melawan hukum Tuhan. Sejarah mengatakan bahwa kerusakan yang pertama kali dilakukan manusia adalah disebabkan memperebutkan pasangan. Qabil tidak rela menerima keputusan bahwa dirinya mesti menikahi saudari kembar Habil, Labuda. Sedangkan Habil mesti menikahi saudari kembar Qabil, Iqlima. Sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah kepada sang ayah, Nabi Adam ‘alaihi salam. Hawa nafsu telah membutakan mata hati Qabil. Sehingga ia berambisi untuk menghabisi nyawa saudaranya sendiri demi mendapatkan Iqlima sebagai istri.

Seiring waktu berlalu, peran wanita dalam strata sosial masih begitu rendah. Mereka hanya berposisi sebagai pemuas nafsu birahi. Sebagaimana yang terjadi pada zaman Nabi Musa ‘alaihi salam. “Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan (sebagai pelayan). Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Q.S Al-Baqarah : 49). Tradisi seperti ini terus menggerus kejiwaan orangtua sehingga menjadi sebuah paradigma bahwa anak perempuan adalah aib bagi keluarga. Menguburnya hidup-hidup adalah kenyataan pahit yang mesti diterima. Bahkan, sebagian mereka akan berwajah marah saat mengetahui anaknya adalah perempuan. ”Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah. Lalu dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang diterimanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah, alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan.” (QS An-Nahl [16] : 58-59). Alangkah rendah perlakuan manusia terhadap wanita. Habis manis sepah dibuang, seperti sampah.

Sampai akhirnya, tibalah masa kelahiran manusia paripurna. Datang membawa risalah, sebagai pemberi peringatan sekaligus kabar gembira untuk sekalian alam semesta. Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan syariat, hikmah dan kelembutan yang diajarkan Tuhan, beliau menawarkan hidup yang lebih menyenangkan, menenangkan, dan dibenarkan akal. Dalam kisaran waktu kurang lebih dua puluh tiga tahun saja, beliau berhasil membersihkan umat manusia dari segala kebodohan lahir dan batin. Mengembalikan fitrah batin mereka yang bertuhankan Allah dan mengajarkan mereka cara terbaik menjalani kehidupan dunia. Islam begitu sempurna memuliakan wanita. Terbukti dari ajarannya yang mengatur tentang segala sisi kehidupan wanita. Mulai dari cara berpakaian, cara berjalan, cara berbicara, bahkan cara bertatap mata. Islam juga menata hubungan antara pria dan wanita. Wanita yang dulu hanya pemuas hawa nafsu, dengan syariat Tuhan, Nabi Muhammad mengangkat derajat, harkat dan martabat mereka. “ Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, niscaya mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka. ” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim].

Tulisan ini jika diakhiri sampai sini akan menjadi bacaan yang menggugah hati. Sayangnya, yang menjadi inti dari penulisan ini adalah apa yang akan tertera setelah titik di bawah ini. Hampir ratusan abad wanita mesti menjalani hidup seperti hewan peliharaan. Diberi makan untuk menjadi pelayan, tidak dikasihi, tidak dicintai, apalagi diperlakukan bak tuan putri. Ungkapan ini tidak menafikan semua golongan, tapi berdasarkan kenyataan yang dominan. Setelah Nabi Muhammad datang memuliakan wanita dari kezaliman pria, fenomena yang terjadi hari ini mengatakan bahwa mereka justru malah menghinakan dirinya dengan memajang dan memamerkan keindahannya di hadapan jutaan pasang mata tanpa harga. Entah apa yang merasuki mereka.

Wanita sering disebut juga makhluk perasa karena memang dalam penciptaannya, Allah meletakkan sifat kelembutan, keelokan, keanggunan, kebersihan, kasih sayang dan kepedulian kepada mereka. Maka dari itu, mereka dikodratkan sebagai ibu pengasuh. Tapi banyak dari mereka yang menggunakan kewanitaannya itu untuk sembarang orang. Akhirnya, banyak dari mereka yang menjadi korban perasaan. Kemudian akibat perasaan yang sering dikecewakan, terjadi konflik kebatinan yang mengakibatkan rusaknya pergaulan, mulai hilang rasa malu sebagai perempuan, senang dengan pujian dari pria kurang iman, puncaknya adalah saat perempuan rela menyerahkan keperawanan.

Setidaknya, ada tiga faktor yang menyebabkan kerusakan diri seorang wanita.

  1. Kurang pendidikan agama

Kebodohan beragama menjadi sebab utama kerusakan seorang wanita. Agama sebagai fondasi yang menentukan kokoh atau goyahnya sebuah kebenaran dalam menjalani kehidupan. Pelajari agama dengan baik dan benar, lalu praktikkan dalam keseharian. Jika benar agamanya, kuat dasarnya, maka wanita akan terjaga dari segala kerusakan yang ada. Walaupun harus tertimpa, dia tahu jalan pulangnya.

  1. Kurang perhatian orang tua

Kurangnya pendidikan agama disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua. Seharusnya orang tua memfasilitasi dan mendukung penuh anak-anaknya dalam mengenyam pendidikan agama. Terutama untuk anak putrinya. Selain itu, orang tua juga punya peran besar dalam mengawasi perkembangan dan pergaulan anak-anaknya. Memperhatikan siapa temannya, ke mana perginya. Sehingga gerak anak tercangkup dalam kontrol orang tua. Jika anak salah, segera dinasihati dan diluruskan.

  1. Lingkungan yang salah

Kurang tepat dalam memilih pergaulan dapat mengakibatkan perubahan pola pikir dan perilaku anak. Karena sikap seseorang ditentukan dengan siapa dia berteman. Jika baik temannya, maka kebaikan-kebaikan lingkungan sekelilingnya akan membentuknya menjadi pribadi yang baik juga. Sebaliknya, jika sekitarnya adalah kerusakan, maka sedikit banyak pasti akan merusak dirinya.

Masih banyak lagi kekurangan yang mesti segera kita benahi. Tulisan ini sekilas memiliki sudut pandang kepada perempuan saja, karena memang mereka menjadi sudut paling penting dalam perbaikan kehidupan umat manusia. Dalam sebuah ungkapan hikmah dikatakan “perempuan adalah tiang negara. Jika benar perempuannya, maka sentosa negaranya. Jika rusak perempuannya, maka hancurlah negara.”. Untuk itu, tulisan ini menjadi risalah berangkap pesan teruntuk ibu, bibi, saudari, muslimah, para calon bidadari surga.

“Muslimah.. bagaimana Allah dan Rasulullah tidak memuliakanmu? Sedangkan engkau adalah ibu bagi para anak-anak yang hebat, istri dari suami yang tangguh. Muslimah.. sudahkah engkau berterima kasih kepada Rasulullah? Dengan meneladani ajarannya & mendidik hati agar mencintai dan merindukannya. Sungguh tanpa kehadirannya, mungkin hari ini kalian tak bisa menikmati indahnya dicintai & dihormati. Hargailah jasanya dengan tetap menjaga rasa malu sebagai mahkota kebesaranmu. Muslimah.. Dunia terlalu jelek untuk menjadi saingan kecantikanmu, Dunia terlalu hina untuk disandingkan dengan kemuliaanmu, Dunia terlalu jahat untuk kau jadikan temanmu. Buatlah Dunia mengakui kecantikanmu dengan menyembunyikan keanggunanmu. Jadikan Dunia tunduk di bawah kemuliaanmu dengan bersikap acuh terhadap bual rayunya. Biarkan Dunia berserah diri padamu dengan memerangi segala tipu dayanya. Tidak terlalu penting mengetahui referensi dari tulisan ini. Tapi jika kau penasaran, ketahuilah bahwa referensi tulisan ini adalah hati. Referensi hakiki yang paling direkomendasi. Karena hati tidak diproduksi untuk mengkhianati, hati tidak diciptakan untuk menyalahkan kebenaran. Maka seharusnya, tulisan ini juga sampainya ke hati. Hati yang bersih akan sudi menjawab dan menyeru panggilan suci. Sebagai penutup dari pesan ini, perlu kau ketahui, bukan tanpa alasan tulisan ini dinamai “Bunga Lili di Tepi Gunung Merapi”. Itu adalah sebuah simbol istimewa sekaligus menjadi doa supaya muslimah laksana bunga Lili di tepi gunung Merapi, tidak sembarang mata bisa menikmati keelokannya, tidak setiap hidung bisa menghirup semerbaknya, tidak semua tangan berani memetiknya. Hanya lelaki tangguh saja yang bisa melihatnya karena harus rela lelah mendaki gunung, hanya pria sejati saja yang bisa memilikinya karena bernyali untuk berdiri di tepi gunung Merapi, meski nyawa menjadi taruhannya. Semoga tahun ini menjadi musim semi bagi bunga lili untuk segera disemai oleh petani-petani berhati putih, seputih bunga lili.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *