PPI TUNISIA

Warga Tunisia Memperjuangkan hak mereka

Tunisia dan Titik Awal Sejarah Arab Spring

Berbicara mengenai kebangkitan dan perubahan sistem suatu negara, maka di Indonesia kita semua telah mengenal istilah Reformasi. Dilansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Reformasi secara umum bermakna perubahan secara drastis untuk perbaikan dalam bidang sosial, politik, atau agama (KBBI Online) , dan jika kita menggunakan kata reformasi ini dalam konteks Indonesia maka yang akan muncul di benak kita yaitu Reformasi 1998 atau biasa disebut setelah masa orde baru berakhir. Peristiwa ini dikepalai oleh mahasiswa yang bertujuan untuk menjatuhkan kekuasaan presiden Soeharto, yang dimana hal ini disebabkan oleh banyaknya kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan keinginan rakyat.

Jika reformasi dalam konteks Indonesia dikenal dengan sebutan Reformasi 1998 yang dipicu dengan adanya gerakan mahasiswa untuk menggulingkan kekuasaan, maka didalam konteks dunia Arab diistilahi dengan The Arab Spring atau didalam bahasa arab disebut juga dengan ats-tsauraatul ‘Arabiyyah yang secara etimologi berarti pemberontakan atau kebangkitan dunia Arab, hal ini merupakan peristiwa gelombang revolusi dan demonstrasi dalam skala besar yang diawali dengan peristiwa pembakaran diri seorang pemuda Tunisia pada 17 Desember 2010 (www.aljazeera.net; محمد البو عزيزي شرارة أطلقت الربيع العربي) yang kemudian dari tragedi ini menyebabkan timbulnya nya Arab Spring (Kebangkitan dunia Arab), hal ini dititik awali dari Tunisia yang telah berhasil menjatuhkan Zine el-Abidine ben Ali dari kursi kekuasaannya, kemudian menjalar ke sebagian negara-negara bagian Timur Tengah dan Afrika utara, seperti Mesir yang melengserkan Presiden Hosni Mubarak dan pemerintahannya, Libya yang menewaskan Presiden Muammar al-Khadafi akibat terjadinya perang saudara di Libya, dan masih banyak lagi negara-negara Arab yang ikut serta dalam peristiwa Arab Spring ini.

Suasana Arab Spring di Tunisia

Mohamed Bouazizi, seorang pedagang sayur dan buah muda Tunisia berusia 26 tahun, ia berdagang di kota Sidi Bouazizi, Tunisia. Penghasilannya tidaklah lebih dari 400 dinar Tunisia atau sekitar 2 juta Rupiah perbulannya untuk menafkahi semua anggota keluarganya, apalah daya tidak bisa membeli mobil pick up atau sejenisnya untuk berjualan, ibaratkan dapat uang untuk makan saja sudah alhamdulillah, maka ia berjualan dengan gerobak mungilnya. Singkat cerita ditengah ia sedang berjualan sayur dan buah segarnya itu, datang sejumlah petugas keamanan untuk berberes dan merauk sejumlah pedagang yang sedang berdagang di tempat itu, termasuk Mohamed Bouazizi, gerobak serta dagangannya dirauk habis oleh sang petugas keamanan itu.

Tak selesai disini, maka setelah kejadian itu Bouazizi frustasi yang kemudian berbuntut dengan pembakaran dirinya pada 17 Desember 2010, yang mengakibatkan Bouazizi kritis akibat luka bakar yang dialaminya hingga akhirnya Bouazizi meninggal pada 4 Januari 2011. (www.beritasatu.com; arab spring bermula dari penjual buah).

Api yg membakar Bouazizi ini tidaklah padam segera, peristiwa pembakaran diri Bouazizi tersebut tersebar ke seluruh plosok dunia terlebih bagian Timur Tengah dan Afrika Utara. Sekitar kurang dari sebulan pasca peristiwa pembakaran diri itu, ribuan masyarakat Tunisia turun kejalan untuk berdemonstrasi yang mayoritas diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Universitas di Tunisia, tidak lain untuk menggulingkan Zine el Abidine, presiden ke-2 Tunisia. Bukan hanya karena periswiwa pembakaran diri itu saja, demonstransi besar-besaran ini juga dilatar belakangi oleh pemerintahannya yang terkenal otoriter dan tidak bersih dalam mengelola uang rakyat. Peristiwa Arab Spring di Tunisia ini sebagaimana dilansir dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang telah mencatat korban sebanyak 219 jiwa meninggal serta 510 luka-luka. Tak lama setelah setelah demontrasi berlangsung, sang presiden Tunisia itu lengser dari jabatannya setelah lebih dari 23 tahun menduduki kursi kekuasaan, yang kemudian ia melarikan diri ke negara Arab Saudi.

Setelah Zine el Abidine lengser, maka Tunisia berstatuskan sebagai negara darurat, yang kemudian kekuasaan diambil alih dan dinahkodai oleh koalisi yang menyertai partai pimpinan Ben Ali tersebut.

Partai koalisi tak bertahan lama, maka pada 24 Oktober 2011 Negara Tunisia menyelenggarakan pemilihan umum yang dimenangkan oleh Moncef el- Marzukie yang diusung oleh partai Islam en-Nahdha. (www.aljazeera.com; النموذج الأنجح للثورات العربية).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *